Terkait dengan “Seruan Pontianak”

10.12 Diposkan oleh HERI IRAWAN

Jangan Takut Luka Lama
NGABANG- Kalbar adalah propinsi yang dihuni oleh masyarakat multietnik. Karena keadaan ini, Kalbar memiliki sejarah konflik antar kelompok “etnik” yang panjang. Konflik tak bisa dihindari, konflik juga tak bisa dihilangkan. Konflik telah ada sepanjang sejarah manusia. Yang bisa dilakukan adalah mengelola konflik secara damai, bukan dengan kekerasan. Yang ditolak adalah konflik yang berubah menjadi kekerasan.
Demikian dikatakan Yohanes Supriyadi, SE, pemerhati social politik Kalbar, Sabtu (4/10), dalam pres release, kepada sejumlah wartawan di Ngabang.
Menurut aktivis Kalbar ini, sejak terbitnya Iklan “Seruan Pontianak” di 3 koran besar di Kalbar, Senin, 28 September 2009 lalu, mau tidak mau telah menimbulkan konflik. “baik penggagas seruan maupun kontra telah berkonflik” ujar pria berkacamata ini. Dilanjutkannya, seruan Pontianak hanyalah symbol dari upaya mediasi konflik kekerasan yang pernah terjadi di Kalbar. “seruan Pontianak itukan hanya himbauan moral dari pegiat perdamaian yang mesti disikapi dengan arif dan bijaksana oleh masyarakat Kalbar yang multietnik”.


Ditambahkan pria yang juga mahasiswa program magister ilmu politik di UNTAN ini, masyarakat Kalbar jangan takut dengan luka lama.“takutlah dengan luka baru hasil simbiosis kimiawi dari luka lama yang tak pernah sembuh secara final” ujarnya. Dikatakannya, luka lama kalau disentuh memang sakit, karena masih ada sisa-sisa bekas jahitan. Namun, kalau tidak diingatkan bahwa masih ada bekas luka lama, kalau terjadi luka baru akan lebih parah bila terjadi. Dan “Seruan Pontianak” menurutnya, berupaya mengingatkan masyarakat Kalbar agar jangan ada lagi luka baru. “akhir-akhir ini, konflik antar individu seringkali berubah menjadi konflik antar kelompok dengan membawa-bawa kelompok etnik dan agama di Kalbar”. Dikatakannya, berdasarkan analisa konflik beberapa pakar konflik, modus operandi konflik antar kelompok etnik di Kalbar selalu dimulai dari konflik antar individu ini. “karena luka lama masih ada bekas, ketika ada luka baru, seringkali dimanfaatkan pihak tertentu, jadilah ia menjadi konflik antar kelompok etnik”, ujarnya.
Ia juga menyayangkan sikap dari beberapa ormas “etnik” terhadap “seruan Pontianak”. Seharusnya, menurut pria asal Landak ini, ormas karena kumpulan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda selalu mengedepankan kearifan dalam menyikapi situasi social politik yang ada dan berkembang, jangan justru memperkeruh suasana. “selama ini, banyak ormas “etnik” yang selalu mengatasnamakan kelompok etniknya dalam setiap aktivitas, padahal mereka hanya orang-orang tertentu yang kebetulan jadi pengurus ormas” ujarnya seraya mengatakan bahwa, ada juga orang tertentu yang menjadi pengurus ormas se-umur hidup. Kedepan, pemerintah perlu melakukan penataan ormas agar tidak seenaknya satu atau dua orang berkumpul lalu mendirikan ormas atas nama kelompok etniknya. UU memang memperbolehkan semua warganya untuk berserikat dan berkumpul, namun selama ini banyak disalahgunakan hak warga Negara tertentu.
Menurut hasil pengamatan pria yang juga Ketua V Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak ini, banyak ormas dibentuk oleh orang-orang yang tak jelas, karena itu jangan heran ormas dijadikan “alat penekan” untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu. “ormas sekarang ini kan banyak tak jelas, muncul tiba-tiba, dan kemudian hilang tanpa aktivitas program. Banyak juga Ormas yang tak melakukan kaderisasi, karena itu tak heran, orangnya itu-itu saja, sudah puluhan tahun jadi pengurus Ormas yang sama. Dan anehnya, masyarakat “yang diwakili” ormas tersebut tidak kritis” ujar Sekretaris Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalbar ini.
Karena itu, lanjutnya, masyarakat Kalbar harus cerdas, memilah - memilih informasi, pernyataan dari sekelompok aktivis Ormas yang mengatasnamakan kelompok etniknya dalam menanggapi situasi social politik yang ada. “dan saya yakin, rakyat Kalbar sudah cerdas, kata pengurus KNPI Kota Pontianak ini. (wan)
You can leave a response, or trackback from your own site.

0 Response to "Terkait dengan “Seruan Pontianak”"


Powered by www.tvone.co.id